Ungu ~ Luka Disini

Get more songs & code at www.stafaband.info

29 June 2009

IDEALISME KEDUA

Braakk…!! Suara keras buku dibanting diatas meja kayu berukir.

Fikry Radhitya, apa-apaan ini…?!” bentak seorang lelaki tua berkacamata sambil berdiri yang memanggilku 10 menit lalu diruang kantornya yang ber-AC. Yang berada dilantai 4 pada sebuah gedung megah bercat biru langit dalam kampusku. Wajahnya sudah mulai keriput, mungkin berusia 60 tahunan. Dia duduk di kursi empuk yang berbalut kulit di belakang meja. Sedang ragaku didepannya sesekali celingukan, lalu melihat buku yang tadi dibantingnya. Ada tulisan disudut kanan atasnya, MUDA. Dan di dekat tulisan itu, diatas meja ada tanda jabatan berukir tulisan “REKTOR” yang pongah menatap aku. Lalu aku melengos melihat keluar jendela, sementara mulutnya terus mengumpat buku yang tadi dibantingnya sendiri.

Ah, sialan….!!” Batinku. Ini sudah yang ketiga kalinya, dan selalu saja berkaitan dengan berita yang kutulis di majalah kampus. Kali ini tentang wacana untuk menaikkan biaya kuliah dan memperbesar pungutan-pungutan yang tak jelas mulai semester depan, aku tak setuju, dan aku akan mengritik habis kebijakan yang diambil oleh para petinggi kampus. Ya. Berita itu oleh pimredku lantas dijadikan tajuk utama untuk edisi kali ini. Duh bodohnya aku mau diumpankan ke buaya tua ini…! Aku hanya bisa memaki diriku sendiri. Mungkin hal seperti inilah yang juga dialami seniorku dulu saat menjadi awak MUDA, berhadapan dengan ”bos ” guna mempertanggungjawabkan berita yang menurutnya tidak benar atau tidak mau dibenarkan. Dalam kondisi umurku yang semakin menua, seharusnya hari ini aku adalah mahasiswa yang hanya mengurusi tentang tugas-tugas kuliah, meningkatkan referensi bacaan untuk skripsi di perpustakaan, atau malah mengurus monyet bernama “pacar” yang selalu ada saja permintaannya.

Mau tidak mau, harus kuakui bahwa mungkin hanya ada segelintir mahasiswa senior yang masih peduli untuk mengurus majalah ini, salah satunya aku. Aku menjadi ujung tombak sebagai wartawan guna mencari berita yang bukan sekedar berita, berita yang bisa menimbulkan kontroversi dikalangan mahasiswa, tapi tentu saja dengan dukungan data yang kuat. Dan mungkin jabatan ini memang cocok denganku, informasi yang kubutuhkan lebih akurat karena banyaknya kenalan, tidak hanya yang se-fakultas, namun lintas fakultas atau malah lintas universitas. Bahkan dengan banyaknya situs jejaring sosial yang saat ini membuat bangsa kita latah, juga ikut membantu dalam urusan ini. Aku sebagai kepala bagian lapangan, sedikit banyak sebagai motivasi untuk membantu rekan agar menjadi wartawan mahasiswa yang tidak hilang idealisme. Mungkin ini disebabkan karena banyak rekan yang berada di MUDA tak lagi mempunyai idealisme yang militan, atau paling tidak belum, semoga dugaanku salah. Tentu saja usahaku ini tidak serta merta membuat UKM Jurnalistik tempat majalah ini bernaung dibawahnya dibanjiri calon mahasiswa yang ingin aktif di dalamnya, tapi justru membuat divisi yang telah berusia 37 tahun ini seperti di anaktirikan, sebab dianggap isinya selalu memprovokasi mahasiswa untuk menentang kebijakan universitas. Sebenarnya sudah malas aku mengkritik mereka, mereka hanya mendengarnya lewat telinga kanan, lalu dibuang melalui telinga kiri. Terlebih lagi, segerombolan dosen terus mengejarku agar segera mengumpulkan tugas kuliah yang terus tertunda.

Lamunanku buyar ketika Pak Adnan Rahardi Tobing, nama lengkap rektorku, membentak. Mendengar bentakannya saja, itu sudah membuatku geli, sebab suaranya bukan seperti orang membentak dengan wibawa tapi mirip suara manusia tercekik. Namun tetap saja, darah mudaku jadi makin bergejolak mendengar umpatannya yang kelewat kasar, apalagi mulai menyinggungku, tentang harga diri seorang Jawa. Andai jika bukan karena masalah jabatan, aku tidak mau melukiskan apa yang akan kulakukan padanya. Melihat tubuhnya yang tambun, kepala botak, dan tinggi tubuh yang tak seberapa, kupikir dia bisa kujatuhkan dalam waktu 10 menit, bukan, 5 menit saja, atau malah, 3 menit?!

Kau ini bagaimana saudara Fikry, mau anda apa?! Kemarin anda telah tulis tentang adanya praktek mahasiswi berprofesi ganda di kampus ini, sebelumnya lagi anda provokasi mahasiswa bahwa fasilitas di kampus kurang. Sekarang? Kau malah menulis tulisan seperti ini? Apa mau anda?” lengkingnya tajam.

Tapi pak, Ini nyata! Lihatlah sekeliling bapak…! Saya punya data, seperti apa kondisi perpustakaan kita, seperti apa kondisi tempat parkir, dan kantinnya dimana? Apakah karena alasan itu, uang kuliah akan dinaikkan? Sungguh tak masuk akal!!” kataku sinis, itu membuat wajahnya menyala merah.

Jaga bicara anda saudara Fikry..! Berita ini masih sebagai wacana, belum keputusan final. Jadi, anda tidak bisa memprovokasi mahasiswa lain dengan adanya wacana ini! Kalau toh, akhirnya memang naik, itukan untuk kebaikan dan peningkatan mutu universitas kita….” sanggahnya,

Oya..? Tapi bukti di lapangan menyatakan sebaliknya Pak. Bahwa persentasi kemungkinan uang kuliah untuk naik sekitar 90%. Kesimpulannya, mungkin sekali naik, kan Pak?” tanyaku sinis

Belum lagi soal mark up-mark up dana yang kabarnys dilakukan oleh pihak atas, juga mental dan moral mahasiswa yang menurut saya semakin menurun. Itu karena apa Pak?”

Apa maksud anda?!”

Ya, saya rasa dosen hanya sibuk mengajar dan mengejar materi kuliah yang belum diajarkan. Mana bekal pendidikan spiritual tentang iman dan taqwa untuk mahasiswa, mana materi manajemen kepemimpinan yang baik? Paling hanya diberikan pada mata kuliah Kewirausahaan….itupun jika dosennya tidak ijin guna mengurusi bisnisnya diluar. Apakah itu cukup pak?!” jawabku berapi-api, ingin kutumpahkan semua keluhanku ke muka anda, rektorku.

Bapak harus tahu bahwa sekarang UKM FORMI sekarat, UKM SEBU tidak punya program yang jelas, dan mungkin sebentar lagi UKM Silat menyusul. juga mahasiswa yang tidak mengerti tentang idealismenya. Pertanyaan saya Pak, mau dibawa kemana potensi mahasiswa-mahasiswa seperti itu? Sementara pihak atas tidak pernah memberikan perhatian sedikitpun! Mereka hanya bicara soal uang saja!!” tandasku.

Tentu ini juga ada hubungannya dengan banyaknya praktek mahasiswi yang berprofesi ganda di kampus kita ini. Itu karena apa?! Ah…gila!!” lanjutku makin lantang.

Aku benar-benar menekankan intonasi bicaraku pada kalimat terakhir, dengan harapan rektor tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak tahu bahwa “para petinggi” sedang menari gembira diatas tangisan mereka di tengah mahalnya biaya kuliah serta minimnya timbal balik yang diberikan kepada mereka, baik berupa soft skill ataupun hard skill. Dia diam dan dingin, tak ada jawaban keluar. Tapi aku tahu, dibalik kacamata itu ada mata yang tidak suka sedang manatapku. Aku malas melanjutkan perdebatan panjang ini. Hingga aku memilih untk segera pegi dari sini.

Ya sudah Pak, jika sekiranya tidak ada lagi yang kita bicarakan. Saya ingin mohon diri, karena Ibu Eva telah menunggu saya di kelas. Terima kasih atas waktunya.” pungkasku pelan.

Dia masih diam menatapku berdiri dan berjalan kearah pintu. Akupun tak ingin berpamitan. Mata itu berkilat penuh kesombongan, tapi setelah itu berubah menjadi kebencian yang mengikuti kepergianku. Aku tak tahu rencana apa yang ada dipikirannya untukku, atau untuk anak-anak MUDA. Tapi yang pasti, pertarungan ini telah dimulai.

======oo======


Langit mlungsungi menjadi biru cerah. Udara segar pagi terlihat sedang berduel dengan asap polusi. Jarum panjang jam dinding digerbang utama kampus berada diangka 11, sedang jarum kecil di angka 8. Suara kicau burung masih terdengar hidup di pohon-pohon sepanjang jalan masuk utama ke kampus. Aku berjalan lambat, rasa kantuk masih bergelayut di pelupuk mata karena semalam nyaris tidak ada waktu untuk bermimpi. Setelah selesai menulis esai untuk kukirimkan ke Kompas sekitar jam 12 malam, kusambung dengan mengerjakan tugas kuliah. Gila! Aku takjub dengan diriku sendiri, bagaimana bisa tugas 4 mata kuliah bisa kuselesaikan dalam semalam. Yah, meskipun aku tak tahu apakah jawabannya benar, tapi setidaknya itu bisa membungkam mulut-mulut dosen yang mengatakan bahwa mahasiswa organisasi itu malas membuat tugas. Tipe dosen konservatif.

Fikry….!!” Sayup kudengar suara itu dari belakangku, aku mengenal suara yang memanggilku.

Aku menoleh, Kulihat sebentuk makhluk aneh sedang berlari kecil kearahku. Dia terlihat kelelahan menyangga tubuhnya yang subur itu, apalagi dengan tas ransel yang padat berisi di pundaknya. Oh, sobat…betapa kasihan dirimu. Akhirnya dia sampai juga dihadapanku, ditemani hembusan nafas yang terengah-engah. Aku sudah hapal siapa pemilik jaket hitam yang dipunggungnya ada tulisan “negarawan muslim” itu dia dada sebelah kiri ada tulisan bordir Faiz Rahman, dialah sang pimred di majalah MUDA merangkap Wakil Gubernur di FKIP, termasuk mahasiswa berprestasi di jurusannya, Pendidikan & Sastra Bahasa Indonesia.

Gimana Fik, kemarin?” dia mulai bertanya ditengah nafasnya yang naik turun.

Gimana apanya?”

Kemarin, bagaimana rasanya bertemu sang jendral?”

Ah, biasa saja. Seperti kemarin-kemarin sebelumnya bos. Bisanya cuma marah-marah saja. Tak pernah memberi solusi.” Sambil lalu aku menjawabnya.

Kau sudah siap dengan konsekuensinya kawan?” tanya dia dengan mimik serius.

Aku menoleh padanya, kulihat ada sedikit kekhawatiran disana.

Konsekuensi apa?”

Kau tahu sendirilah….” jawabnya singkat

Jawaban itu mengingatkanku pada seorang kawan lama. Seorang senior yang mengenalkanku pada dunia jurnalistik, seorang wartawan mahasiswa yang teguh memegang idealisme. Tapi gara-gara idealisme itu pula, dia telah dpecat secara tidak hormat sebagai mahasiswa. Gara-gara dia memberitakan peristiwa yang menggemparkan sekaligus memalukan civitas. Ya, sebuah skandal yang melibatkan dekan di salah satu fakultas di kampusku Seminggu setelah kasus itu tertampil di majalah MUDA dan sang dekan telah dimutasi, giliran dia yang dipecat. Tapi sungguh aneh, dia masih berbaik hati dengan tidak membawa masalah ini ke Depdiknas. Karena dia memang telah bosan kuliah, dan memenuhi obessinya yang ingin keliling negeri ditemani sepeda motornya. Kabar terakhir yang kudengar, sekarang dia berada di Pulau Waigeo, Papua.

Aku tak memikirkan sampai kesitu.” Aku menjawab santai.

Ya, tak pernah sedikitpun terbersit dipikiranku kalau akan dipecat dari sini. Bukan karena aku tak takut, bukan karena teman-teman dikampung tempatku kost tahu masalahku dengan pihak “atas” sehingga mereka bisa dan siap bersikap ekstrim jika aku disakiti. Atau bukan karena aku sudah malas kuliah. Tapi aku lebih takut jika pengorbananku ini tidak mendapatkan hasil dikemudian hari. Sungguh, aku lebih takut dengan hal itu.

======oo======


Akhirnya udara pagi kalah juga melawan polusi, dia telah hilang dan mati. Berganti dengan sengat matahari yang bercumbu dengan polusi yang makin menjadi. Aspal tampak menghitam, sedang langit bersih tanpa awan. Beberapa mahasiswi berjalan merambat mencari dan menginjak bayangan guna menghindari sinar matahari langsung yang menurut mereka dapat menghitamkan kulitnya.

Suara lagu Canon karya Johann Pachebell di handphoneku berdering terus dari tadi. Kulihat nama yang muncul, selalu Faiz. Mengapa kau tak SMS saja sobat, bukankah lebih mudah? Atau kau kesini saja, ke ruangan yang telah lama tak kujenguk, yang pernah menjadi rumah ketigaku. Ruangan yang mendinginkan karena AC-nya luar biasa memang dingin, bisa juga untuk mendinginkan otak yang telah terkontaminasi pikiran-pikiran liberal. Meskipun menurut sebagian besar teman, isi ruangan ini tidaklah lengkap. Aku juga berharap, secepatnya pihak universitas segera melengkapi dan memperbaiki kekurangan yang ada di perpustakaan ini. Semakin benar kata Faiz, kualitas perpustakaan mencerminkan kualitas intelektualitas mahasiswa di kampus bersangkutan, tapi bukan semata dalam hal akademik saja. Sosial, pengalaman, serta spiritual juga berperan besar membentuk intelektualitas global bagi mahasiswa, begitu katanya.

Asslm. Fik, sgra ke kntor MUDA skrg! Da undngn workshop bwt u.

SMS dari Faiz itu kubaca, lalu aku bergegas menaruh kembali ke rak, buku berjudul Kepemimpinan dan Motivasi karya Wahjusumidjo yang tadi kubaca. Kutandatangani buku tamu, mengambil tas dan jaket yang kutitipkan, dan berjalan cepat menuju ke kantor MUDA, bangunan kecil tempat kami selalu menembakkan kritikan pedas terhadap pihak kampus.

Sekitar 5 menit berjalan sudah kulihat bangunan itu, ada 3 kuda besi dihalamannya. Ruangan bercat biru muda yang mengandung filosofi langit dan laut bahwa mahasiswa harus berpikir sedalam laut dan berimajinasi setinggi langit membalut temboknya. Ruangan yang di dalamnya berserakan kertas-kertas draft berita, cerpen, puisi, serta lainnya. Kulihat disalah satu sudut ruangan, di atas CPU komputer terdapat tumpukan proposal yang telah cair bebrapa hari yang lalu. Dana dari proposal serta sedikit bantuan dari universitas itulah yang kami gunakan untuk biaya cetak majalah MUDA.

Dari mana saja?” Faiz bertanya setelah keluar dari kamar mandi. Belum sempat kujawab,

Bos, ada undangan workshop di Jogja. Undangannya di laci meja pimred.” kata Puput, anak lelaki semester 4 asal Indramayu yang berperawakan seperti seorang perempuan. Mungkin dulu ibunya mengharapkan dia lahir sebagai wanita, sehingga namanyapun seperti nama wanita. Dia adalah salah satu cameraman yang dimiliki MUDA. Aku langsung menuju ke mejanya Faiz. Kubuka laci dan aku menemukan amplop resmi berkop salah satu universitas ternama di kota budaya tersebut. Juga disebut juga sebagai kota “seks in the kost” menurut buku karangan Iip Wijayanto.

======oo======


Matahari masih moncer diatas ubun-ubun. Aku sudah mulai bosan dengan ceramah yang disembirkan seorang pengarang novel itu pada sesi pertama hari pertama workshop. Dia juga seorang penulis berita serta seorang penyair yang juga memiliki sebuah pesantren berbasis wirausaha mandiri di Semarang.

Tapi aku masih bertahan di dalam ruangan karena satu hal yang menarik perhatianku, karena aku melihat salah satu pembicara yang kurasa aku pernah melihatnya dimana. Tidak terlalu cantik, bodi jauh dari sintal, tapi mata itu, mata itu penuh dengan cahaya dan pisau yang bisa melukai siapa saja yang melihatnya. Aku merasa pernah melihat mata itu.

Menurutku dia susah dimasukkan ke dalam kelompok wanita supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk berkenalan padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan dan resmi kenal, dan kusebut namaku, dia sebut namanya.

"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?" kataku

Dan sudah kubaca novelmu, novel yang bagus untuk solusi bangsa ini….” Aku menambahkan.

Itu hanya nama pena kok dan tak seberapalah tulisanku…."

Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu di milis dan di koran." dia membalasku, yang kemudian kusambut dengan ucapan terima kasih. Ya, hanya terima kasih. Karena ternyata dia tak sedahsyat tulisannya di media. Dan diapun tak sehangat yang kuperkirakan. Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya yang kedua di sebagai pembicara ini di depan forum. Di antara moderator dan 2 orang panelis, dia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi banyak diam seperti kemarin, bahkan terkesan garang sebagai wanita, Tiba-tiba aku melihat pesonanya menjadi sedemikian panas. Dia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Agus, temanku, bahwa bagian tubuh wanita paling seksi itu adalah otak, bukan dada atau pantat! Tiba-tiba aku bergairah saat melihat dia turun dari panggung, luar biasa gadis ini.

Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Kami berdiskusi sambil makan, minum, serta sedikit diluar perkiraanku, dia ternyata jago ngelawak. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.

"Setelah ini, kamu ingin ikut sesi selanjutnya?" tanyaku tiba-tiba,

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku ingin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."

"Kita jalan-jalan saja?" pancingku

"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Dhini, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon suaminya. Maklum pengantin baru…” ujarnya sambil tersenyum. Senyum terus nona, biar aku semakin tenggelam

"Ooo, Dhini yang dari Jakarta itu, ya?"

"Ya. Kenal dia?" terkanya,

"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."

"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Tapi aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, karena harus sekamar dengannya."

======oo======


Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, dan makan sama-sama, lalu jalan kaki sembari bercerita apa saja. Lelah, naik taksi lagi, turun, dan jalan kaki lagi, begitu entah sampai berapa kali berganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.

"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" kataku langsung, karena aku bukan tipe lelaki yang suka bertele-tele. sangat menakjubkan bukan?!

"Oh, ya? Apa ya….?”

Apa saja pokoknya!” jawabku mantap,

Begini saja, Aku ingin cerita.cerita tentang perjuanganmu sebagai aktivis di kampus! Itu saja, tentang kehidupanmu di kampus….” pintanya yang diluar nalarku.

"Hah?"

"Apakah permintaanku berlebihan?"

Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya. Lalu kuceritakan tentang siapa aku sebenarnya, tentang sepak terjangku di kampus, tentang tulisan-tulisan yang kubuat dan menyulut kontroversi di kalangan petinggi kampus, Sang provokator mahasiswa. Tapi aku lupa, atau pura-pura lupa untuk menceritakan bahwa aku mempunyai “musuh alami” sebagai aktivis kampus. Ya, rektorku itu.

Kamu tahu nama asliku?” dia bertanya sambil berjalan agak jauh disampingku. Suasana jalan yang gaduh dan hiruk pikuk transaksi jual-beli memaksaku untuk memicingkan telinga guna mendengar suaranya.

Hah..?”

Sevi Karenina Tobing, itu nama asliku. Dan….rektormu itu adalah ayahku.”

Hah…?” ujarku lagi, ini bukan ungkapan untuk heran atau kagum, tapi aku benar-benar terkejut.

Aku tahu kamu, siapa kamu, dan bagaimana pergerakanmu di kampus….” katanya sembari senyum, itu mengandung arti yang dalam. Sial, dia mengulitiku dengan pernyataannya itu.

Ayah sudah bercerita banyak tentang kamu, tentang seorang Fikry Radhitya….” aku makin lemas mendengar kelanjutan suara yang keluar dari bibir manisnya.

Tapi aku suka, suka karena memang benar apa yang dikatakan ayah. Kamu memang pemberontak!” ujarnya, kalimat terakhir sungguh menekanku.

Apa?!” kali ini memang aku heran, atau mungkin marah?

Kamu ini seorang pejuang mahasiswa, kan? Jadi kamu harus bisa memperjuangkan aku dan dirimu sendiri di depan ayah nanti. Itupun jika kau mau....” Dia mengatakan itu sambil berjalan cepat mendahuluiku lalu berjongkok untuk menawar harga sebuah cinderamata botol yang di dalamnya ada perahu. Tampak nenek penjual kaget melihat kedatangannya

Aku melongo, lalu tertawa keras. Banyak orang yang melihat kearahku. Mungkin aku mereka kira sudah gila. Ya, aku gila kepada gadis istimewa ini. Aku memandang langit. Rupanya langit malam ini menjadi hari pertama untuk memulai perjuanganku yang kedua, idealisme kedua ini harus aku pertahankan selama mungkin. Kalau bisa sampai mati. Seperti aku mempertahankan eksistensi MUDA sampai hari ini. Aku membatin, “Pak, aku ingin tahu reaksi bapak jika sekarang bapak melihatku dan putri bapak ini….”

Ini akan menjadi tahun yang melelahkan, tapi menantang.


Kudus, Juni 2009

11 June 2009

KAU PILIH MANA?

Hey....
Datang padaku!

Akan kutunjukkan sesuatu yang indah padamu
Sesuatu yang bisa membuatmu menangis seperti anak kecil
Sesuatau yang akan mencurahkan tawamu layaknya orang gila

Hey....
Cepat, larilah!

Segeralah karena dia dia akan beranjak pergi
Segeralah sebab dia hanya sekedar sandarkan barang sejenak
Sesuatu yang kau anggap kekal namun kau tak sadar

Kau masih tak tahu apa itu
Bodoh menurutku...
Ambil cermin dan berkacalah!
Terlihat dirimu ada dua
Yang kiri penuh jelaga
Sedang yang kanan terlihat bercahaya
Kau pilih mana?

NB : Puisi ini telah dimuat dalam majalah PEKA UMK

RAHTAWU, 27 APRIL 2008

Hari ini aku pergi ke tempatmu
Jauh memang, tapi ternyata tak percuma meski tak banyak cerita yang kutuangkan bersamamu

Namun paling tidak….
Aku bisa bertemu dengan orang yang kusayangi
Aku bisa bercengkerama dengan air yang jernih, yang mengalir di atas tubuhmu
Aku bisa menginjak bumi yang selama ini kau banggakan dia subur
Aku bisa bermanja-manja dengan angin dan sinar matahari yang sejuk
Dan aku bisa berbuat apa saja disana….

Namun ada hal yang ingin kutanyakan
Mengapa pohon-pohonmu sekarang sudah tak lagi lebat?
Kenapa sampah-sampah itu leluasa mengalir di sungai yang membelahmu?
Mengapa burung-burung itu enggan bersilaturahmi di rumahmu sekarang?
Bagaimana bisa bangkai-bangkai hidup itu bisa mencemarimu dengan sumpah serapahnya?

Apakah kau tak lagi suci, sejuk, tenang, dan cantik?
Bilakah ini semua berakhir Rahtawuku?

NB: Puisi telah diterbitkan dalam buku kumpulan puisi/antologi "Secangkir Kopi dan Puisi"